Oleh. Ninik Rahayuningsih
Muslimahtimes.com–Ramai beredar video di sosial media yang menghebohkan dunia Pendidikan untuk kesekian kalinya. Video tersebut menampilkan seorang guru di SMKN 3 Tanjung Jabung, Jambi, nampak dikeroyok oleh beberapa muridnya. Menurut Kompas.com pada 18/01/26 bahwa keributan terjadi karena adanya ucapan bullying yang dilakukan guru kepada seorang muridnya, sedangkan menurut pengakuan dari guru bahwa hal itu terjadi karena beliau diejek oleh muridnya. Beberapa langkah sudah dilakukan pihak sekolah untuk memediasi kedua belah pihak, namun tidak menemui jalan keluar atas masalah pertikaian guru versus murid ini. Fenomena rusaknya moral dan akhlak dipertontonkan ke seluruh penjuru negeri.
Tidak aneh rasanya melihat fenomena minimnya akhlak terpuji baik dari sisi guru maupun siswa pada dewasa ini. Proses degradasi moral akhlak insan pendidikan ini memang berjalan semakin mengkhawatirkan. Guru sebagai pendidik tidak lagi mampu menampilkan sosok panutan bagi muridnya, sedangkan murid tidak lagi bisa menghormati dan menghargai guru sebagai sumber ilmu. Kedua belah pihak ini seolah berjalan sendiri-sendiri dalam langkah menuju kegelapan, mekipun lingkungan mereka adalah sumber cahaya kebenaran dan kebajikan. Dunia Pendidikan kini tak lagi menjadi institusi sakral tempat lahirnya manusia-manusia terdidik dan tercerahkan.
Hanya aja, para insan Pendidikan ini , mereka sebenarnya bukanlah pelaku ataupun aktor dibalik runtuhnya moral akhlak ini. Baik guru maupun murid hanyalah sebagai korban dari penerapan sistem kehidupan yang rusak. Sistem kehidupan yang termanifestasi dalam aturan-aturan yang kacau balau, jauh dari hakikat kehidupan manusia. Alih-alih dengan sistem kehidupan ini mampu menciptakan individu manusia yang terbaik (shalih dunia akhirat), moral akhlak yang baik saja tak mampu dimunculkan. Akhirnya fenomena yang menjadi skandal buruk dunia pendidikan bak gunung es dimana yang tertangkap kamera hanyalah sekelumit kecil dari banyaknya kekacauan dunia pendidikan yang tak terlihat mata masyarakat. Guru datang hanya sekedar menunaikan tugas keseharian saja tanpa paham besarnya tanggung jawab sebagai pendidik generasi umat dan keberkahan ilmu yang disampaikan. Sedangkan para muridpun ke sekolah hanya memenuhi teriakan orang tuanya tanpa tahu alasan kenapa mereka harus menuntut ilmu. Akibatnya muncul model guru dan murid yang hedon, tidak saling peduli, minim akhlak mulia, bahkan gambaran guru dan murid yang sesungguhnya tidak ada pada diri mereka. Sekali lagi bahwa semua keberkahan dan kebaikan dari ilmu telah dilumat habis oleh sistem kehidupan yang rusak ini.
Sistem kehidupan yang kacau ini telah berhasil melahirkan dunia pendidikan yang amburadul, keluar dari tujuan pendidikan yang telah diamanatkan dalam Undang-Undang Dasar. Sistem ini yang menjadikan guru dan murid lupa dengan hakikat ke-manusia-an mereka sebagai seorang makhluk dari Tuhannya. Seorang mahkluk yang seharusnya sadar diri untuk senantiasa beribadah kepada RabNya dengan mentaati segala perintah dan laranganNya. Namun sistem ini telah meletakkan prinsip kehidupan bahwa dunia ini hanya diciptakan Tuhan tanpa ada aturanNya, dengan manusialah pemilik dan pembuat aturan untuk kehidupannya sendiri. Peran Tuhan dibatasi hanya pada area privat saja, sedangkan untuk area publik maka manusia bebas melakukan inovasi dan improvisasi dalam menciptakan aturan kehidupan sendiri. Konon pemisahan antara peran agama dengan kehidupan menjadi hal yang lazim dan harus dilakukan agar hidup manusia menjadi bahagia. Sistem ini tidak lain adalah sekulerisme, yang membuat dunia pendidikan sebagai lumbungnya ilmu gagal menjalankan visi dan misinya dalam menerangi kehidupan manusia. Bahkan gagal meski hanya sekedar menciptakan akhlak yang baik di sisi manusia yang berakal dan beriman.
Naasnya lagi, sekarang ini sekulerisme telah berpadu dengan kapitalisme dalam menaungi dunia pendidikan. Adapun akhlak baik yang muncul tidak lagi karena perintah Ilahi, tapi lebih dilandasi oleh aspek materi (keuntungan/profit). Hal ini menjadikan apa yang ada di depan mata nampak baik, namun di belakang akan keluar wujud aslinya (akhlak buruk). Kemudian muncullah manusia-manusia yang hidup dalam topeng kepalsuan karena segala sesuatu harus diukur dari sudut pandang profit. Lalu bagaimana manusia bisa kembali kepada marwahnya sebagai makhluk yang mulia dan mengembalikan dunia pendidikan sebagai tempat melahirkan manusia-manusia terbaik dengan akhlakul karimah ? tentu jalan satu-satunya adalah dengan meninggalkan sistem kehidupan (sekulerisme-kapitalisme) yang merusak ini dan kembali kepada jalan Ilahiah, sistem Islam yang sempurna dan paripurna.
Islam meletakkan ilmu (akidah Islam ) sebagai dasar manusia itu beriman dengan sebenarnya dan dengan ilmu (sistem syariat Islam) itu sebagai pembentuk kehidupan manusia. Dengan ilmu, manusia bisa mengendalikan hawa nafsu dan menjadi khalifah fil ardhi. Ilmu akan menghilangkan keraguan dan kebimbangan serta kebingungan dalam hati manusia, untuk kemudian memantapkan keyakinan dan kebenaran. Bahkan amal tanpa ilmu dianggap sia-sia. Oleh karena itu, Islam menjadikan ilmu dan institusinya sebagai sesuatu yang fundamental untuk dijaga dan dipastikan keberadaanya. Menempatkan orang-orang yang berkecimpung dalam dunia ilmu (pendidikan) sebagai mutiara umat, mercusuar kegemilangan peradapan manusia.
Akhlak yang mulia hadir sebagai buah dari penerapan ilmu (akidah dan syariat Islam) dalam diri seseorang dimana berakhlak terpuji karena tuntunan Ilahi dan bermoral baik karena dorongan iman, tidak seperti jika landasannya akidah dan sistem sekuler. Seorang guru akan melaksanakan tugas dan tanggung jawab terhadap ilmu sepenuh hati, dan muridpun akan berusaha menjadi individu yang hormat dan takzim terhadap gurunya. Kedua belah pihak akan berlomba-lomba menjadi manusia yang terbaik disisi Tuhannya dan bermanfaat di sisi sesamanya. Semua ini hanya bisa dicapai ketika sistem Islam (pendidikan Islam) menjadi pilar dunia pendidikan negeri ini. Adanya negara yang punya kewenangan untuk menerapkan dan menjaga sistem pendidikan Islam akan menjadi langkah awal bagi kemuliaan manusia dan kemajuan bangsa. Negara yang paling bertanggung jawab untuk bisa menjadi ibu bagi seluiruh rakyatnya dengan memastikan sistem pendidikan berjalan sesuai syariat Islam.
