Oleh. Nining Ummu Hanif
Muslimahtimes.com–Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) adalah hari nasional yang ditetapkan pemerintah setiap tanggal 2 Mei. Peringatan tersebut sebagai bentuk penghormatan terhadap perjuangan Ki Hajar Dewantara dalam dunia pendidikan Indonesia. Filosofi pendidikan dari seorang Ki Hajar adalah “Ing Ngarso Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani” yang mengajarkan bahwa seorang guru atau pemimpin pendidikan harus menjadi teladan, penggerak, dan pemberi dorongan. Diharapkan dengan peringatan Hardiknas ini, dapat menjadi momen refleksi bersama atas pentingnya pendidikan dalam membentuk karakter dan masa depan bangsa.
Namun, pendidikan Indonesia hari ini sedang tidak baik-baik saja.Berbagai persoalan membuat wajah pendidikan makin suram. Kekerasan dan pelecehan di kampus dan sekolah, kecurangan , hingga kebijakan yang berubah-ubah tanpa arah jelas menjadi potret yang sulit disangkal saat ini.
Seperti peristiwa penganiayaan yang yang berujung tewasnya siswa pelajar SMA Negeri 5 Bandung bernama Muhammad Fahdly Arjasubrata (17) di kawasan Cihampelas, Bandung pada 13 Maret 2026 yang Pelakunya juga pelajar SMA. Pengeroyokan brutal juga terjadi pada pelajar bernama Ilham Dwi Saputra (16 tahun) di Kabupaten Bantul. Korban sempat dirawat lalu dinyatakan meninggal di rumah sakit akibat luka yang dideritanya.Dua pelaku berhasil ditangkap sementara lima pelaku lainnya masih buron.
Sementara itu, kasus kecurangan dalam Ujian Tulis Berbasis Komputer Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (UTBK-SNBT) dengan menggunakan joki untuk meloloskan calon mahasiswa program studi kedokteran terungkap di tiga perguruan tinggi di Jawa Timur. Wajah kampus juga tercoreng ketika terungkap dugaan pelecehan seksual di dalam grup aplikasi pesan oleh mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Indonesia (FHUI). Sebanyak 16 mahasiswa FHUI diduga menjadi pelaku pelecehan seksual verbal tersebut.
Belum lagi perilaku pelajar yang makin berani menghina guru, bahkan memenjarakan guru hanya karena memarahi atau menghukum siswa. Bahkan pelajar dan mahasiswa banyak yang tertangkap karena menjadi pengedar narkoba.
Alarm Keras Pendidikan
Pendidikan merupakan jantung peradaban. Karena bukan hanya sekadar ruang transfer ilmu, melainkan tempat untuk pembentukan watak dan penanaman nilai. Sementara kenyataan yang terjadi saat ini justru sebaliknya. Miris memang, generasi muda yang digadang-gadang sebagai pemimpin masa depan bangsa justru tak hentinya dijerat berbagai persoalan yang menyesakkan dada.
Aroma kapitalistik di dunia pendidikan saat ini sangat begitu nyata. Output pendidikan bukan lagi demi membentuk kepribadian Islam tapi hanya berorientasi pada prestasi akademik dan lapangan kerja. Selain itu mengejar kesuksesan yang instan dengan sedikit usaha tapi menghasilkan keuntungan sebanyak- banyaknya.
Pelajaran agama di sekolah dan di kampus sangat minim. Itu pun hanya diajarkan dalam bentuk hafalan untuk mengejar target kurikulum. Minimnya penanaman nilai agama yang menjadikan pelajar mengalami krisis kepribadian, sekuler, liberal dan pragmatis . Dengan demikian meski masih di usia sekolah, mereka mudah sekali terseret dalam tindakan kekerasan, kejahatan dan kemaksiatan.
Apalagi negara memberikan kelonggaran sanksi hukum kepada pelaku tindak kriminal yang dilakukan para pelajar. Dengan dalih masih dibawah umur sehingga dianggap sebagai kenakalan remaja biasa dengan sanksi denda atau diberikan pembinaan saja.
Pendidikan Islam, Wujudkan Generasi Emas
Sangat berbeda bila negara menerapkan sistem Islam, dimana fokus pendidikannya adalah pembentukan karakter (syakhsiyah Islamiyah) sehingga mampu menyelaraskan antara pola pikir dan pola sikap. Selain aspek kognitif atau intelektual, Islam juga sangat menekankan pada pendidikan akhlak. Akhlak adalah cerminan dari keimanan seseorang, dan tanpa akhlak yang baik, ilmu pengetahuan bisa menjadi tidak bermanfaat atau bahkan merusak. Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Ahmad).
Dalam Islam, pendidikan anak dimulai sejak dini, bahkan sejak dalam kandungan. Orang tua memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk karakter dan kepribadian anak. Selain keluarga, sekolah dan lingkungan juga memiliki peran penting dalam pendidikan anak. Sekolah harus menjadi tempat yang tidak hanya mengajarkan ilmu pengetahuan, tetapi juga mendidik akhlak dan spiritualitas. Sedangkan lingkungan yang positif akan membantu anak muda untuk tumbuh dengan sehat, baik secara fisik maupun mental, serta menghindarkan mereka dari pengaruh negatif.
Islam juga memiliki sanksi tegas terhadap pelaku kejahatan termasuk pelajar apabila sudah baligh. Karena pengertian anak di bawah umur dalam pandangan syariah adalah anak yang belum baligh (dewasa). Adapun jika pada seseorang sudah terdapat satu atau lebih di antara tanda-tanda baligh (‘alamat al bulugh) yang ditetapkan syariah, berarti dia sudah dianggap mukallaf dan dapat dijatuhi sanksi jika melakukan perbuatan kriminal.
Dengan peran yang saling bersinergi antara keluarga, sekolah, lingkungan dan negara dalam sistem pendidikan yang berdasarkan akidah Islam maka akan menghasilkan “generasi emas” yang cerdas dan bertakwa
Inilah tujuan utama dari pendidikan dalam Islam, yakni mencetak generasi yang mampu menjadi rahmat bagi seluruh alam, sebagaimana tujuan diutusnya Rasulullah saw. Wallahu’alam bishowab
