Oleh. Umi Zadit Zareen
Muslimahtimes.com–Plesetan yang lagi ramai ketika di Hari Raya Kurban yaitu “Hari kurban adalah kurban perasaan”, entah karena belum mampu kurban, nggak dapet daging, atau jadi momen patah hati/putus cinta. Maksudnya: bukan cuma nyembelih hewan, tapi juga “nyembelih” perasaan.
Hari Kurban/Iduladha esensinya memang kurban ego & kecintaan pada dunia. Kisah Nabi Ibrahim & Ismail itu intinya: “Apa yang paling di cinta? Sanggup nggak untuk lepas kalau Allah minta?”
Jadi “kurban perasaan” benar kalau yang di maksudnya:
- Kurban rasa pelit → mau berbagi daging
- Kurban rasa gengsi → ikhlas nggak kebagian sesuai yang diinginkan.
- Kurban rasa cinta berlebihan ke harta → rela beli hewan kurban untuk berbagi.
- Kurban rasa kecewa/iri → liat tetangga kurban sapi, karena ini bagian dari ibadah penilaian manusia bukan menjadi tolak ukurnya.
Itu bagian dari cerminnya seorang karena yang sampai ke Allah bukan darah/dagingnya, tapi takwanya (QS. Al-Hajj: 37). Ketakwaan sesungguhnya ketika Allah memerintahkan sesuatu, maka kita wajib mematuhinya tanpa perlu pertimbangan.
Jika di lihat dari sisi plesetan dalam konteks “galau”: Akan menjdi masalah kalau berhenti di situ.
Kalau “kurban perasaan” cuma jadi bahan ngeluh: “Lebaran kurban, yang dikurbankan perasaan. Misalnya berlebaran namun belum memiliki pasangan atau rasa kecewa dalam menghadapi kehidupan”
Maka jika makna kurban di jadikan plesetan yang tidak membuat diri menjadi dekat dengan Allah, ini bukanlah sifat dari seorang muslim sesungguhnya.
Ibadah kurban itu bagian dari Islam, hukumnya sunnah muakkadah sampai wajib menurut sebagian ulama. Tidak pantas kalau cuma ditempatin di level “perasaan penilaian terhadap dunia”.
Ibaratnya: Salat itu tiang agama. Kalau ada yang bilang “Salat itu tiang buat sandaran pas galau”. Benar jika pada tempatnya, tapi kalau cuma salat ketika galau saja, ya tidaklah baik.
Jadi kalau lagi merasa “jadi korban perasaan” pas Iduladha, bagus. Berarti hatinya masih hidup. Tinggal mengarahkan yang dikurbankan itu perasaan negatif — iri, kecewa, dendam, cinta buta. Bukan malah jadiin Idul Adha sebagai hari ratapan dunia.
Iduladha itu napak tilas ujian terberat Nabi Ibrahim: disuruh sembelih anak yang paling dicintai. “Hari Kurban = kurban perasaan” itu bukan dalil, tapi plesetan yang ada benarnya kalau dipahami pakai kacamata syariat.
Artinya, esensi kurban sama dengan menyembelih kecintaan yang berlebihan pada selain Allah.
Kurban hewan itu bagian simbol. Yang asli disembelih itu “Ismail” di dalam hati kita.
“Ismail” saat ini apa? Harta? Jabatan? Mantan? Rasa ingin dipuji? Pengakuan? Semua hal yang memalingkan diri dalam ketaatan kepada Allah serta tujuan hidup di dunia.
Nabi Ibrahim lulus karena benar-benar menaruh pisau di leher Ismail. Minimal naruh pisau di leher yang penuh dengan “prasangka dan penyakit hati” Iduladha menyembelihnya dan terlahir kembali dengan pemikiran yang baru dengan penuh ketaatan.
Wallahu a’lam bishawab
