Skip to content
Muslimah Times

Muslimah Times

dari dan untuk muslimah masa kini

Primary Menu
  • HOME
  • NEWS
  • AKTUAL
  • CHICKEN SOUP
  • HIKMAH
  • KAJIAN
  • PARENTING
  • RESENSI
  • RUMAH TANGGA
  • SASTRA
  • TEENS
  • Kontak Kami
    • SUSUNAN REDAKSI
    • Login
  • Home
  • 2026
  • July
  • 21
  • Begini Proses Manipulasi Menjerat Korban

Begini Proses Manipulasi Menjerat Korban

Editor Muslimah Times 21/07/2026
WhatsApp Image 2026-07-21 at 10.18.38
Spread the love

Oleh. Kholda Najiyah

Muslimahtimes.com–Kasus penyekapan dan penganiayaan sadis yang dialami perempuan bernama YTR (29) oleh Taufik Hidayat (30), adalah salah satu bukti bahwa laki-laki manipulatif yang memperdaya wanita itu nyata. Bahkan, ini adalah fenomena gunung es alias banyak perempuan yang menjadi korban. Jika kasus YTR adalah hubungan haram pacaran, tak sedikit istri yang kebetulan berjodoh dengan suami manipulatif. Biasanya, istri akan mengalami KDRT dan sulit lepas dari siklus hubungan pernikahan yang sudah tidak sehat ini.

Bagi yang tidak mengalami, sulit menerima nalar, mengapa masih bertahan jika pasangan menyiksanya. Namun, proses manipulasi itu memang tidak dirasakan korban sebagai tanda bahaya. Pelaku menggiring psikologis korban secara sangat halus hingga sulit disadari. Karena itu, penting bagi kaum perempuan untuk memahami proses manipulasi dan tahu bagaimana cara membentengi diri. Tahap awal, pahami proses manipulasi itu sebagai berikut:

  1. Love Bombing

Tahap awal, pelaku tampak baik dan memperlakukan pasangan dengan lembut. Belum tampak sikap kasarnya. Pelaku bahkan sering memberikan pujian, perhatian dan hadiah. Kadang berlebihan, hingga membuat korban merasa nyaman, bangga dan merasa dicintai. Akibatnya, korban mulai kecandungan atau ketergantungan kepada pelaku. Seolah-olah pelaku adalah soulmate-nya.

  1. Isolasi Secara Halus

Tahap berikutnya, pelaku mulai membatasi interaksi korban dengan dunia luar. Korban dibuat bergantung dan hanya butuh pada pelaku.Pelaku secara halus melarang korban berteman, dan bahkan merusak menghubungan korban dengan keluarga. Menjauhkan dari mereka. Misalnya dengan kalimat: “Memangnya gak cukup kalau hanya aku dan kamu?” “Aku cuma mau kita berdua saja.” Atau “Temanmu itu membawa dampak buruk.” “Jangan ceritakan kepada ayah ibumu, pasti mereka akan menghalangi kita.”

  1. Gaslighting alias Memutarbalikkan Fakta

Ini senjata yang meruntuhkan psikologi korban, hingga mengubah persepsi dari korban menjadi pelaku. Artinya, korban dibuat merasa bersalah oleh pelaku, seolah-olah kelakuan buruk pelaku adalah dipicu oleh kesalahan korban. Pelaku akan sering bilang begini: “Kamu kan yang bikin aku marah.” “Kamu saja yang terlalu perasa, maksudku bukan begitu.” Atau “Coba kalau kamu nurut sama aku.” Akibatnya, korban merasa rendah diri, hilang rasa percaya diri dan merasa dia pantas mendapat perlakuan buruk karena kesalahannya.

  1. Pelaku Mengontrol dan Mengendalian Korban

Pelaku mulai mengatur apa yang boleh dan tidak boleh, mengkritik apapun tentang korban dan mengomentarinya. Misalnya, korban tidak boleh mengunci HP-nya agar pelaku leluasa mengecek isi chat korban. Pelaku mengatur cara berpakaian korban, mengelola uangnya, melarang ini itu dengan berbagai alasan.

Di titik ini, banyak korban yang tidak sadar bahwahidupnya tidak lagi merdeka, melainkan dikendalikan oleh pelaku. Korban telah kehilangan jati dirinya. Hubungan tidak lagi didasari rasa cinta dan respek pada pasangan, melainkan rasa takut.

  1. Siklus Berulang antara Penyiksaan dan Romantisme

Pelaku akan bersikap kasar jika keinginannya tidak terpenuhi. Korban diperlakukan semena-mena sampai tersakiti. Setelah itu pelaku minta maaf, memohon agar diberi kesempatan, berjanji tidak akan mengulangi lagi. Pada titik ini, korban merasa harus memberi harapan pada pelaku, siapa tahu bisa berubah lembut. Akhirnya, korban tidak jadi melepaskan diri. Pelaku kemudian bersikap manis, memberi hadiah atau mengajaknya jalan-jalan. Korban semakin yakin bahwa pelaku berubah. Namun, tak berapa lama pelaku berikap kasar lagi. Lalu manis lagi, kasar lagi dan seterusnya.

Itulah yang terjadi, hingga tahun demi tahun berganti dan korban semakin tersika fisik dan psikisnya, namun semakin lama semakin tidak berani melepaskan diri dari pasangan yang berbahaya.

  1. Escape Mode Berubah Jadi Survive Mode

Pada saat korban disiksa pasangan, pada awalnya dia ingin kabur, menjauh dari pelaku. Tapi entah kenapa, setelah korban minta maaf, hatinya luluh seketika. Lama-lama, pola pikirnya ikut teracuni. Lazimnya, seseorang yang dizalimi, akan segera memutuskan untuk melarikan diri. Namun, tidak bagi korban manipulatif. Otaknya sudah rusak, hingga tidak berpikir untuk “lari” lagi namun berubah menjadi yang penting bisa bertahan. Misalnya, saat pelaku memukul korban dan korban melawan dengan menjerit minta tolong atau menangis, pelaku akan memukul lebih sadis. Otak korban pun berbisik, “makanya jangan nangis biar gak dipukul lagi.”

Akibatnya, korban akan diam, meski dianiaya sampai tubuhnya hancur. Ia lebih memilih menahan jeritan, daripada menjerit tapi disiksa lebih kejam. Ia berpikir, yang penting saya masih bisa tetap hidup. Alih-alih ingin menyelamatkan diri, yang ada malah pasrah. Bertahun-tahun kemudian, tak juga sadar kalau dia adalah korban.
Begitulah bahayanya jika menjadi korban manipulasi. Sejatinya, korban punya ribuan kesempatan untuk “lari” atau menyelamatkan diri dari hubungan beracun tersebut, namun memilih bertahan. Meski fisik dan mentalnya hancur, bahkan nyawa pun bisa melayang. Na’udzubillah mindzalik. Semoga para muslimah terhindari dari pasangan seperti itu.(*)

Continue Reading

Previous: Kaum Pelangi Butuh Solusi Ideologis, Bukan Malah Diakui
Next: LGBT Ancaman Serius bagi Peradaban Manusia

Related Stories

Islam, Benarkah Mampu Menyolusi Karhutla? WhatsApp Image 2026-09-15 at 06.49.06

Islam, Benarkah Mampu Menyolusi Karhutla?

14/09/2026
Antara Kejahatan Kolonialisme di Palestina dan Urgensi Khilafah Islamiyah WhatsApp Image 2026-09-15 at 06.05.00

Antara Kejahatan Kolonialisme di Palestina dan Urgensi Khilafah Islamiyah

14/09/2026
Menakar Kembali Pertarungan Geopolitik Amerika Serikat–Iran WhatsApp Image 2026-09-11 at 12.04.55

Menakar Kembali Pertarungan Geopolitik Amerika Serikat–Iran

11/09/2026

Recent Posts

  • Keracunan Massal MBG, Bukan Sekadar Kesalahan SOP
  • Istri Solehah Bukan Istri Pajangan
  • Kapitalisasi Dunia Medis Berujung Petaka
  • Keracunan Massal MBG, Persoalan Sistemis Bukan Sekadar Pelanggaran SOP
  • Warga Gaza Terancam Pengusiran, Kehadiran Perisai Umat Sudah Sangat Mendesak

Recent Comments

  1. Editor Muslimah Times on Utang Luar Negeri dan Kedaulatan Negara
  2. ranum on Diskriminasi Pendidikan, Sampai Kapan?
  3. Yanto on Utang Luar Negeri dan Kedaulatan Negara
  4. Winda on Potret Pendidikan di Era Milenial
  5. Nungki on Jual Beli Perawan, Bisnis yang Menjanjikan

Read This

Keracunan Massal MBG, Bukan Sekadar Kesalahan SOP WhatsApp Image 2026-09-18 at 20.31.31

Keracunan Massal MBG, Bukan Sekadar Kesalahan SOP

18/09/2026
Istri Solehah Bukan Istri Pajangan WhatsApp Image 2026-09-18 at 20.20.35

Istri Solehah Bukan Istri Pajangan

18/09/2026
Kapitalisasi Dunia Medis Berujung Petaka WhatsApp Image 2026-09-18 at 13.45.47

Kapitalisasi Dunia Medis Berujung Petaka

18/09/2026
Keracunan Massal MBG, Persoalan Sistemis Bukan Sekadar Pelanggaran SOP WhatsApp Image 2026-09-18 at 13.37.47

Keracunan Massal MBG, Persoalan Sistemis Bukan Sekadar Pelanggaran SOP

18/09/2026
Copyright © Muslimah Times. All rights reserved. | MoreNews by AF themes.