Oleh. Tari Ummu Hamzah
Muslimahtimes.com–Taukah Anda bahwa kemasan Unilever, Indofood, dan Mayora menjadi tiga besar penyumbang pencemaran sampah kemasan plastik, sari hasil brand audit oleh Pawai Bebas Plastik? Mereka menemukan bahwa sampah plastik sekali pakai, adalah jenis kemasan saset yang jumlahnya 79,7 persen dari total temuan sampah plastik lainnya. (Tempo.com)
Ini menandakan bahwa industri besar sangat sukses membaca perilaku market Indonesia, yang sebagian besar dengan tingkat ekonomi menengah hingga bawah. Dimana kelas ekonomi ini hanya mampu membeli produk-produk berkemasan kecil. Sedangkan produk dengan kemasan besar terkesan mahal. Mereka adalah kelas ekonomi yang sulit untuk memiliki pilihan dalam berbelanja kebutuhan sehari-hari.
Di sisi lain, makin rendahnya tingkat ekonomi rakyat, maka makin sulit untuk setia pada satu produk. Karena kecenderungan mereka ditujukan pada produk dengan harga murah, kemasan ekonomis, dan praktis. Sedangkan nilai produk jadi nomor dua. Kepedulian mereka dengan sampah juga sangat amat minim. Karena perhatian mereka lebih kepada harga dan kemasan kecil yang ekonomis.
Kondisi ini dimanfaatkan oleh para raksasa industri, dimana produk masal mereka sangat diminati oleh masyarakat. Namun sayangnya para pemilik industri ini jelas tidak memikirkan dampak lingkungan dari produk yang mereka produksi.
Dimana Peran Negara?
Membludaknya sampah plastik ini tidak lepas dari sistem kapitalisme yang diterapkan di Indonesia. Kapitalisme meniscayakan perusahaan produsen pangan atau non pangan melakukan produksi besar-besaran demi target perolehan profit yang besar. Mirisnya inovasi varian produk baru juga terus dilakukan, padahal faktanya tidak semua produk yang diproduksi itu mampu terserap semua oleh pasar.
Upaya mengatasi sampah plastik tidak cukup dengan penyelesaian pada aspek hilir seperti aktivitas daur ulang. Karena tidak semua masyarakat mampu untuk memanfaatkan sampah plastik memiliki nilai ekonomis. Untuk itu, kita juga harus memperhatikan aspek hulu, yaitu penyebab banyaknya sampah plastik. Nyatanya pemerintahan tidak memberikan alternatif untuk bahan kemasan hasil produksi. Akhirnya sebagian besar industri masih menggunakan plastik sebagai kemasan sekali pakai.
Selain itu, persoalan sampah yang terus terjadi tidak diimbangi dengan penegakan hukum dan anggaran pengelolaan sampah yang layak. Dari pihak pemerintah tidak ada upaya edukasi soal sampah secara masif dan struktural. Hanya imbauan serta regulasi untuk menjaga kebersihan saja. Tindakan itu jelas tidak cukup. Karena meskipun lingkungan rumah dan tempat umum sudah bersih, tapi tidak cukup hanya menyingkirkan sampah lalu selesai masalah. Ini bukti bahwa solusi dari sistem kapitalis tidak menyentuh akar masalah. Hanya bersifat temporal dan tidak berkelanjutan. Gunungan sampah menjadi bukti gagalnya pengelolaan sampah.
Karena pada dasarnya sistem kapitalis tidak memperhatikan kerusakan lingkungan atau peduli dengan keselamatan manusia. Hal yang utama menjadi perhatian para pengusaha dan penguasa adalah produksi. Seharusnya, masalah sampah juga menjadi tanggung jawab negara. Seperti dalam sistem Islam yang mengharuskan negara menjalankan fungsinya sebagai pengurus rakyat dengan mengedukasi bahaya plastik. Beberapa hal yang ditempuh Khilafah untuk menyolusi secara holistik terkait sampah plastik adalah:
Pertama, negara akan mengembangkan riset terpadu untuk menemukan teknologi mutakhir, baik dalam menyediakan kemasan alternatif yang ramah lingkungan atau teknologi pengolah sampah yang mumpuni. Kedua, negara akan memberikan bantuan khusus untuk inovasi penyediaan alternatif plastik yang didanai negara. Ketiga, negara akan memperhatikan pendirian pabrik untuk mendaur ulang limbah yang diizinkan, sehingga ketika dibuang tidak akan membahayakan manusia, hewan, maupun alam. Keempat, negara akan membentuk tim ilmuwan untuk mempelajari dan mengembangkan cara-cara baru guna membersihkan limbah yang tidak dapat didaur ulang guna menghilangkan risiko dan bahaya bagi rakyat.
Dari solusi holistik diatas kita dapati bahwa, persoalannya itu bukan pada masif atau tidaknya produksi barang, atau soal penggunaan bahan-bahan dari plastik sebagai pembungkusnya. Tapi sistem apa yang digunakan untuk meregulasi aktivitas produksi, dan mencegah dampak terhadap alam dan lingkungan.
Islam melarang manusia melakukan kerusakan lingkungan. sebab Allah telah mengaugerahkan alam yang layak dihuni oleh manusia sebagai bekal penyangga kehidupan manusia. Allah juga mengizinkan manusia untuk mengambil hasil dari alam. Untuk itulah syariat Islam hadir untuk meberikan solusi atas masalah manusia dalam mengelola dan menyeimbangkan kehidupan mereka dengan alam.
Allah Ta’ala telah berfirman:
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS Ar-Rum: 41).
