Skip to content
Muslimah Times

Muslimah Times

dari dan untuk muslimah masa kini

Primary Menu
  • HOME
  • NEWS
  • AKTUAL
  • CHICKEN SOUP
  • HIKMAH
  • KAJIAN
  • PARENTING
  • RESENSI
  • RUMAH TANGGA
  • SASTRA
  • TEENS
  • Kontak Kami
    • SUSUNAN REDAKSI
    • Login
  • Home
  • 2026
  • May
  • 12
  • Dua Tragedi Pilu, Cermin Terpasungnya Peran Ibu

Dua Tragedi Pilu, Cermin Terpasungnya Peran Ibu

Editor Muslimah Times 12/05/2026
WhatsApp Image 2026-05-12 at 21.07.27
Spread the love

Oleh. Kholda Najiyah

Muslimahtimes.com–Jika dijamin nafkahnya, tak perlu ibu bekerja dengan mempertaruhkan nyawa diri dan anak-anaknya.
 
*
 
Hati kita teriris, air mata pun meleleh atas dua tragedi yang menimpa ibu bekerja. Pertama, kasus dugaan kekerasan terhadap bayi di daycare Little Aresha di Yogyakarta. Sebanyak 30 orang dimintai keterangan dan 13 sudah ditetapkan sebagai tersangka: mulai ketua yayasan, kepala sekolah, hingga pengasuh. Dari total 103 anak, sedikitnya 53 anak terindikasi menjadi korban kekerasan. Bagaimana bentuk kekerasan itu? Inilah yang membuat geram.
 
Anak-anak itu ditelanjangi, hanya mengenakan popok. Lalu digeletakkan di lantai beralaskan matras, di ruang kecil dan kurang sirkulasi. Mirisnya lagi, kaki dan tangannya diikat kain. Mereka hanya bisa menangis, tanpa bisa bergerak. Ikatan hanya dibuka saat ke kamar mandi. Tidak ada ruangan ber-AC. Tidak ada kasur empuk. Tidak ada belaian dan pelukan hangat para pengasuh.
 
Padahal, ibu menitipkan buah hatinya untuk dijaga, agar anak nyaman dan tetap terawat selama ibu bekerja. Sungguh, bukan hanya bayi-bayi itu yang terluka dan trauma. Tetapi sang ibu, jauh lebih dalam lukanya. Meninggalkan anak bekerja saja, sudah menyimpan rasa bersalah. Ditambah lagi anaknya menjadi korban penganiayaan tidak manusiawi. Bayangkan rasa bersalah yang akan menghantui seumur hidup ibu.
 
Tragedi Gerbong Wanita

 
Kabar duka kedua, kecelakaan kereta api yang menewaskan para perempuan dan mayoritas adalah ibu bekerja. Malam itu, padat-padatnya KRL Bekasi hendak mengantar pulang para pejuang ekonomi keluarga. Di gerbong wanita, mereka melepas penat sejenak dari lelahnya bekerja. Tak ada yang menyangka, itu adalah hari perpisahan bagi korban. Mereka pulang untuk selama-lamanya.
 
Musibah datang tanpa diundang. Gerbong terakhir itu dihajar lokomotif baja KA Argo Bromo yang merobek keheningan malam. Tak ayal, para wanitu itu terpental, terjepit, tergencet dan terkapar bersimbah darah. Sedikitnya 16 perempuan tewas. Ada yang hamil dua bulan, padahal menunggu lima tahun lamanya sebagai pejuang garis dua. Ada yang membawa cooler bag ASI untuk persiapan meninggalkan buah hati esok hari. Ada pula yang pulang dari hari pertamanya bekerja. Dan ada yang hari itu adalah hari pertama kerja setelah cuti melahirkan. Innalillaahi wainnailaihi rajiuun. Ungkapan bela sungkawa saja, rasanya tidak cukup.
 
Fenomena Ibu Bekerja

 
Dua tragedi di atas mengusik nurani kita, karena ada benang merah yang sama, yaitu fenomena ibu bekerja. Keberadaan daycare dengan permintaan yang tinggi, menunjukkan tingginya angka ibu bekerja. Kondisi ini tidak jauh berbeda dengan pertengahan abad 19, ketika daycare mulai dicetuskan pertama kali.
 
Saat itu di Prancis, terjadi revolusi industri. Jumlah perempuan pekerja pabrik meningkat drastis, lantaran upah ayah tidak cukup. Mereka tergencet kemiskinan. Nah, karena ditinggal bekerja ayah-ibunya, banyak balita meninggal terlalu dini atau tumbuh terlantar, lantaran kurang perawatan. Muncul inisiatif dari para perawat untuk membuka penitipan anak.
 
Kini, di abad 21, ternyata kisah pilu itu masih berlanjut. Biaya hidup tinggi dan penghasilan ayah saja tidak cukup. Akibatnya, ibu-ibu terpaksa bekerja. Pagi buta lari-lari mengejar kereta, sembari menitipkan bayinya di penitipan anak. Keberadaan daycare pun kian menjamur. Daycare pada jenjang pendidikan anak usia dini (0-6 th) berjumlah sekitar 197 ribu di seluruh Indonesia (data KPPPA).
 
Memang, tidak semua ibu bekerja itu benar-benar karena tergencet kemiskinan. Buktinya, mereka masih sanggup membayar biaya daycare. Namun, bukan berarti mereka kaya raya. Cukup agar hidup layak saja. Hitungan di atas kertas, masih ada selisih antara gaji yang ibu dapat, dikurangi biaya menitip anak. Selisih itulah yang diharapkan mampu untuk memberikan fasilitas lebih layak pada anak-anaknya.
 
Di kalangan menengah, suami dan istri bekerja, agar tidak tergelincir ke kelas bawah. Berdua saling menguatkan ekonomi.

Penghasilan suami untuk biaya makan dan pendidikan anak. Penghasilan istri untuk belanja alat rumah tangga, pakaian, rekreasi, mainan dan bahkan jajan anak. Itulah realita yang terjadi. Jadi, jangan hakimi ibu bekerja, karena mereka juga punya alasan yang realistis.
 
Keluarga Tidak Ideal
 
Keluarga yang ideal menurut Islam adalah suami mecukupi nafkah dan istri sebagai ibu rumah tangga. Tugas utama suami bekerja atau berbisnis untuk mendapat penghasilan, dan tugas utama istri adalah mengatur rumah, mengasuh dan mendidik anak. Namun, relasi ideal itu sulit ditegakkan dalam peradaban kapitalisme saat ini.
 
Alasan pertama, karena para suami tidak memiliki gaji yang cukup untuk memberikan nafkah yang layak. Bahkan, tak sedikit laki-laki yang tidak paham kewajiban menafkahi dan malah menuntut istrinya ikut menanggung beban biaya rumah tangga.
 
Kedua, biaya hidup semua ditanggung keluarga tersebut. Mulai sandang, pangan, papan, pendidikan, keamanan dan kesehatan. Negara tidak hadir untuk mendukung penyediaan rumah yang murah, pendidikan yang gratis sampai kuliah, kesehatan yang bebas iuran, dan bahan pangan yang terjangkau. Negara membiarkan keluarga-keluarga itu berjuang sendiri. Kalaupun memberi bantuan, hanya kepada mereka yang benar-benar miskin, padahal kalangan menengah juga berhak mendapat kemudahan.
 
Ketiga, paradigma kapitalis-sekuler dengan gerakan kesetaraan gender yang membangun narasi bahwa kemuliaan perempuan hanya ada pada kemandirian finansial. Jadi perempuan itu jangan tergantung pada laki-laki. Ditambah stigma negatif terhadap ibu rumah tangga, yang dianggap tidak berdaya, hanya menjadi beban suami, dan beban sosial. Akhirnya para ibu pun berangkat kerja.
 
Keempat, perempuan dipandang sebagai tenaga kerja murah dan instrumen pemasaran yang efektif. Ibu yang punya sifat sabar, lembut, telaten, rapi, bisa jadi karyawan yang menguntungkan. Sedangkan perempuan yang cantik dan seksi, bisa menarik pembeli. Dunia kerja pun membuka pintu lebar-lebar bagi perempuan, sembari menyingkirkan laki-laki yang akhirnya jadi pengangguran. 
 
Kelima, standarisasi kesuksesan berasas materialisme. Sukses itu punya karier, jabatan, dan gaya hidup konsumtif, bukan pada kualitas karakter anak yang dilahirkan, diasuh dan dididik. Sukses itu punya barang mewah, mobil, bisa jalan-jalan ke luar negeri, bukan anak yang saleh, santun, beradab, dan berbakti pada orang tua. Ibu rumah tangga domestik dibuat minder, karena dipandang tidak sukses, akhirnya memilih karier.
 
Kembalikan Peran Ibu
 
Peradaban kapitalisme, telah mengubah peran ibu secara drastis, dari domestik ke publik. Mengubah peran sebagai pendidik generasi (al-ummu aadrasatul ula), pengelola rumah tangga, dan tiang negara; menjadi peran ekonomi pencari uang semata.
 
Ibu bekerja, bukan sekadar pilihan individu, melainkan paksaan dari sistem hidup yang berat. Kaum ibu “dipasung” di pabrik, kantor, pusat perbelanjaanl, toko dan sektor lainnya, hingga tidak bisa menjalankan peran mengatur rumah, mengasuh anak, mendidik dan memenuhi gizinya. Padahal, hati nurani ibu dilanda rasa bersalah saat meninggalkan anak. Jika nafkah sudah cukup, mereka dengan senang hati mau di rumah saja dan fokus mendidik anak.
 
Sudah banyak penelitian yang menunjukkan dampak kurangnya pengasuhan dan pendidikan saat orang tua sibuk bekerja. Seperti lemahnya bonding orang tua dan anak, hingga mereka mengalami krisis identitas, meningkatnya kenakalan remaja, dan kesehatan mental yang rapuh. Lahirlah ‘generasi gadget’ yang lebih dididik oleh media sosial daripada nilai moral keluarga.
 
Tak hanya itu, angka perceraian yang tinggi, juga dampak dari kelelahan fisik dan mental, hingga konflik peran antara suami dan istri yang sama-sama bekerja. Kita tidak boleh menutup mata dengan itu semua, agar tragedi demi tragedi tidak terulang lagi.
 
Karena itu, mengembalikan peran ibu berarti menyelamatkan masa depan para wanita sebagai tiang negara, menyelamatkan generasi dan eksistensi bangsa. Ingat ungkapan, “Jika Anda mendidik seorang pria, Anda mendidik seorang individu. Jika Anda mendidik seorang ibu, Anda sedang mendidik sebuah bangsa.”
 
Jadi, jika benar-benar peduli pada ibu bekerja dan ingin menyelamatkan anak-anak yang tidak berdosa dari kurangnya pengasuhan dan perawatan terbaik, maka akar masalahnya yang harus dihilangnya. Apa itu? Berikan jaminan kesejahteraan kepada keluarga itu, sehingga ibu tak perlu lagi terpaksa bekerja yang mempertaruhkan nyawa diri dan anak-anaknya.(*)

Continue Reading

Previous: Hapus Prodi demi Industri, ke Manakah Arah Pendidikan Kita?

Related Stories

Hapus Prodi demi Industri, ke Manakah Arah Pendidikan Kita? WhatsApp Image 2026-05-12 at 10.23.09

Hapus Prodi demi Industri, ke Manakah Arah Pendidikan Kita?

12/05/2026
Refleksi Hardiknas, Mampukah Wujudkan Generasi Emas? WhatsApp Image 2026-05-08 at 21.20.58

Refleksi Hardiknas, Mampukah Wujudkan Generasi Emas?

08/05/2026
Rendahkan Guru, Potret Sistem Pendidikan Sekuler WhatsApp Image 2026-05-08 at 20.52.54(1)

Rendahkan Guru, Potret Sistem Pendidikan Sekuler

08/05/2026

Recent Posts

  • Dua Tragedi Pilu, Cermin Terpasungnya Peran Ibu
  • Hapus Prodi demi Industri, ke Manakah Arah Pendidikan Kita?
  • Skincare 10 Step, tapi Salat Masih Bolong, Penyakit Zaman Now
  • Refleksi Hardiknas, Mampukah Wujudkan Generasi Emas?
  • Enam Faktor Penghambat Pernikahan

Recent Comments

  1. Editor Muslimah Times on Utang Luar Negeri dan Kedaulatan Negara
  2. ranum on Diskriminasi Pendidikan, Sampai Kapan?
  3. Yanto on Utang Luar Negeri dan Kedaulatan Negara
  4. Winda on Potret Pendidikan di Era Milenial
  5. Nungki on Jual Beli Perawan, Bisnis yang Menjanjikan

Read This

Dua Tragedi Pilu, Cermin Terpasungnya Peran Ibu WhatsApp Image 2026-05-12 at 21.07.27

Dua Tragedi Pilu, Cermin Terpasungnya Peran Ibu

12/05/2026
Hapus Prodi demi Industri, ke Manakah Arah Pendidikan Kita? WhatsApp Image 2026-05-12 at 10.23.09

Hapus Prodi demi Industri, ke Manakah Arah Pendidikan Kita?

12/05/2026
Skincare 10 Step, tapi Salat Masih Bolong, Penyakit Zaman Now WhatsApp Image 2026-05-08 at 21.36.11

Skincare 10 Step, tapi Salat Masih Bolong, Penyakit Zaman Now

08/05/2026
Refleksi Hardiknas, Mampukah Wujudkan Generasi Emas? WhatsApp Image 2026-05-08 at 21.20.58

Refleksi Hardiknas, Mampukah Wujudkan Generasi Emas?

08/05/2026
Copyright © Muslimah Times. All rights reserved. | MoreNews by AF themes.