Oleh. Dien Kamilatunnisa
Muslimahtimes.com–“Bangsa-bangsa di dunia akan memperebutkan kalian (umat Islam), seperti memperebutkan makanan yang berada di mangkuk.” Seorang laki-laki bertanya, “Apakah kami (umat Muslim) pada waktu itu berjumlah sedikit?” Beliau ﷺ menjawab, “Bahkan, kalian pada hari itu banyak, tetapi kalian seperti buih di atas arus. Allah akan mencabut rasa takut terhadap kalian dari dada musuh-musuh kalian, dan Dia akan menanamkan wahn ke dalam hati kalian.” Lalu seseorang bertanya, “Apa itu wahn, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Cinta dunia dan takut mati.” (HR. Abu Daud)
Hadis di atas merupakan teguran keras bagi kaum muslim agar segera mengevaluasi dan menyadari kondisi mereka saat ini. Fenomena yang digambarkan Rasulullah ﷺ tersebut dapat menjadi bahan renungan ketika melihat berbagai persoalan yang menimpa kaum muslim saat ini, termasuk tragedi yang terus berlangsung di Palestina.
Kondisi kaum Muslim di Palestina semakin mengkhawatirkan. Citra satelit menunjukkan bahwa militer Israel membangun tanggul tanah sepanjang lebih dari 23 kilometer di Jalur Gaza dalam beberapa bulan terakhir. Warga Palestina khawatir tanggul tersebut akan mengubah batas sementara menjadi perbatasan permanen. Kekhawatiran itu muncul karena sebagian besar penduduk kini tinggal di wilayah pesisir sebelah barat Garis Kuning dalam kamp-kamp pengungsian, sementara banyak kota, termasuk Rafah, telah dihancurkan dan digantikan oleh jalan serta pangkalan militer baru (metrotvnews.com, 21/07/2026).
Di saat Barat gembar-gembor mengenai hak asasi manusia (HAM), hak hidup rakyat Palestina justru terus diinjak-injak. Pembangunan tanggul tersebut semakin mempersempit ruang hidup penduduk Gaza yang kini hanya tersisa di kawasan pesisir yang sempit. Berbagai tindakan itu menunjukkan upaya penguasaan wilayah Gaza secara menyeluruh. Dunia seolah membisu menyaksikan kesewenang-wenangan Israel yang terus mencaplok setiap jengkal tanah Palestina. Bahkan, sekalipun berbagai negara menyampaikan kecaman, hingga kini rakyat Palestina belum memperoleh kebebasan dari penjajahan.
Di sisi lain, wacana New Gaza pada hakikatnya hanyalah utopia kesejahteraan bagi Palestina. Istilah New Gaza tidak lebih dari propaganda yang berpotensi mengalihkan perhatian kaum Muslim dari perjuangan membebaskan Palestina. New Gaza, yang digagas oleh menantu Donald Trump, Jared Kushner, memperkenalkan sebuah master plan untuk merekonstruksi wilayah Gaza yang hancur akibat serangan Israel. Rencana tersebut menitikberatkan pembangunan kawasan tepi laut, gedung-gedung modern, serta berbagai fasilitas mewah yang diklaim akan mengubah Gaza menjadi kota baru yang menyerupai kawasan maju di Timur Tengah (tirto.com, 23/01/2026). Namun, perlu dicermati bahwa pihak yang paling diuntungkan dari proyek tersebut bukanlah rakyat Palestina, melainkan Israel dan negara-negara Barat.
Oleh karena itu, umat Islam tidak boleh tertipu oleh propaganda negara-negara kafir, termasuk melalui berbagai proyek seperti BoP maupun New Gaza. Allah Swt. berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengambil teman kepercayaanmu dari orang-orang yang di luar kalanganmu, karena mereka tidak henti-hentinya menyusahkan kamu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Sungguh, telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka jauh lebih besar lagi.” (QS. Ali ‘Imran: 118)
Penjajah Yahudi Israel sejak dahulu tidak pernah memahami bahasa diskusi. Berbagai fakta sejarah menunjukkan bahwa mereka kerap mengingkari kesepakatan yang telah dibuat. Oleh karena itu, solusi menghadapi penjajahan Israel adalah melalui jihad yang diemban oleh institusi Khilafah. Menegakkan jihad merupakan kewajiban bagi kaum Muslim.
Khilafah akan menggerakkan tentara muslim untuk membebaskan Palestina dari penjajah Israel beserta para sekutunya. Untuk mewujudkan hal tersebut, kaum Muslim harus bersatu dalam ikatan akidah Islamiah serta berjuang menerapkan Islam secara kaffah hingga terwujud kepemimpinan seorang khalifah. Sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim, “Sesungguhnya imam (khalifah) adalah perisai. Di belakangnya kaum Muslim berperang dan kepadanya mereka berlindung.”
Dengan demikian, tragedi Palestina bukan sekadar persoalan kemanusiaan, tetapi juga menjadi pengingat bagi kaum Muslim untuk kembali memperkuat persatuan dalam ikatan akidah Islam, melepaskan diri dari wahn, serta berjuang mewujudkan kehidupan Islam secara kaffah sebagai jalan menuju kemuliaan umat. Wallohu’alam
