OIeh. Ai Hamzah
Muslimahtimes.com–Berita kebakaran hutan dan lahan (karhutla) akhir-akhir ini semakin surut, khususnya di media televisi. Sekalipun musim panas yang panjang sudah mulai berkurang, deretan karhutla tetap masih terjadi diberbagai daerah. Musim panas yang panjang menjadi momok tersendiri dalam peristiwa kebakaran hutan. Mulai berkurangnya pemberitaan terkait karhutla ini seolah-olah sudah tidak ada lagi hutan yang terebakar.
Musim panas yang panjang memang mengakibatkan tumbuhan dan lahan menjadi kering kerontang. Debit air yang ada tidak bisa lagi menahan kelembaban tumbuhan dan lahan sehingga akan sangat mudah terjadi kebakaran apabila terdapat pemicunya yaitu api. Dan api pun yang terbawa angin akan sangat mudah menyebar membakar yang ada disekelilingnya. Alhasil asap pun mengepul ke udara memenuhi rongga udara untuk bernafas.
Menurut Direktur Tindak Pidana Tertentu (Dirtipider) menyatakan tengah menangani 341 laporan terkait kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Hingga kini sudah ada 196 orang yang ditetapkan sebagai tersangka. Adapun luas area yang terbakar dari laporan tersebut telah mencapai 30.566,55 hektare. Selain itu Bareskrim juga tengah mengusut 96 laporan kasus karhutla yang melibatkan korporasi. Meskipun, belum ada tersangka yang telah ditetapkan dalam pengusutan terkait korporasi ini. Adapun luas area tersebut adalah 25.384,94 hektare. Penanganan kasus karhutla tersebar terjadi di 12 provinsi, yakni Kalimantan Barat, Riau, Kalimantan Tengah, Sumatera Selatan, Kalimantan Timur, Jambi, Kalimantan Selatan, Aceh, Kalimantan Utara, Lampung, Sulawesi Tenggara, hingga Sulawesi Selatan. Jakarta, detikKalimantan, Rabu (30/9/2026).
Miris ketika manusia saat ini dengan penuh kesadaran membakar rumahnya sendiri. Rumah tempat mereka menghirup udara bebas tanpa batas. Rumah tempat hidup aneka hayati. Dari sanalah kehidupan ini berjalan dengan ritmenya. Hutan hijau yang terhampar luas Allah ciptakan bukan semata-mata tidak ada maksud bagi kehidupan manusia. Keseimbangan kehidupan yang telah dirusak mengakibatkan banyak ketimpangan hayati. Termasuk “terbakarnya” hutan dan lahan.
Keserakahan duniawi telah merenggut jiwa manusia. Nyawa-nyawa yang tidak berdosa menjadi tumbal keserakahan mereka. Kapitalisme telah mengubah hamparan hutan menjadi lautan api. Hawa nafsu yang membabi buta telah merusak alam hingga udara pun menjadi pekat dengan asap. Kehidupan yang sesak bertambah-tambah dengan sesaknya nafas bak dihimpit beban yang berat. Begitulah kapitalisme dan sekulerisme, hidup bagaikan panggung sandiwara yang bisa kapan saja mereka rubah pelakon dan ceritanya. Kekuasaan dan materi menjadi hal penting yang perlu mereka perjuangkan, bahkan meskipun harus mengorbankan nyawa saudaranya sendiri.
Allah Swt telah berfirman;
اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاۤئِ ذِى الْقُرْبٰى وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ
“Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil, berbuat kebajikan, dan memberikan bantuan kepada kerabat. Dia (juga) melarang perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pelajaran kepadamu agar kamu selalu ingat.” (QS An-Nahl Ayat 90)
قُلْ يٰعِبَادِ الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوْا رَبَّكُمْ ۗلِلَّذِيْنَ اَحْسَنُوْا فِيْ هٰذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةٌ ۗوَاَرْضُ اللّٰهِ وَاسِعَةٌ ۗاِنَّمَا يُوَفَّى الصّٰبِرُوْنَ اَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ
Katakanlah (Nabi Muhammad), “Wahai hamba-hamba-Ku yang beriman, bertakwalah kepada Tuhanmu.” Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini akan memperoleh kebaikan. Bumi Allah itu luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa perhitungan.” (QS Az-Zumar Ayat 10)
قَالَ مُوْسٰى لِقَوْمِهِ اسْتَعِيْنُوْا بِاللّٰهِ وَاصْبِرُوْاۚ اِنَّ الْاَرْضَ لِلّٰهِ ۗيُوْرِثُهَا مَنْ يَّشَاۤءُ مِنْ عِبَادِهٖۗ وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِيْنَ
Musa berkata kepada kaumnya, “Mohonlah pertolongan kepada Allah dan bersabarlah. Sesungguhnya bumi (ini) milik Allah. Dia akan mewariskannya kepada siapa saja yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya. Kesudahan (yang baik) adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS Al-A’raf Ayat 128)
Allah telah menegaskan dalam firman Nya bahwa bumi ini adalah milik Allah. Dan bumi Allah yang begitu luas ini diperuntukkan bagi kehidupan manusia. Maka berbuat kebajikan adalah merupakan perintah Allah agar kehidupan ini berjalan dengan koridor yang Allah inginkan sebagai pemilik bumi dan isinya. Kehidupan akan berjalan harmoni ketika semua berjalan sesuai dengan kehendak pemilik bumi yakni Allah Swt. Keseimbangan duniawi pun akan terwujud karenanya.
Seperti para pendahulu kita Rasulullah Saw dan para sahabatnya. Dengan penuh perjuangan menegakkan kebajikan dimuka bumi ini. Sehingga tak ada celah selain dari cahaya Islam. Peradaban Islam menjadi gemilang karenanya. Islam menjadi landasan dalam berbagai kehidupan. Tidak hanya sebagai ritual ibadah saja, tetapi Islam dijadikan solusi kehidupan dalam tatanan negara. Kehidupan Islam menjadi atmosfer yang senantiasa menyelimuti kehidupan. Tak ayal Allah pun menurunkan rahmat dan kasih sayang Nya dari dalam bumi dan langit. Itulah Islam rahmatan Lil aalamiin…
Begitupun dalam menjaga kelestarian hutan, merupakan amanat yang Allah berikan kepada kita agar manusia dapat memenuhi kebutuhan hidupnya. Pengelolaan hutan dalam Islam masuk kedalam kepemilikan umum yang pengelolaannya wajib dilakukan oleh negara dan hasilnya adalah untuk kemaslahatan umat. Barang siapa yang merusak hutan, mengeruk segala isinya dengan semena-mena bahkan membakarnya demi keuntungan semata, jelas hal ini perbuatan dosa dan sesiapa yang melakukan pembakaran dengan sengaja, akan mendapatkan sanksi tegas dari penguasa. Wallahu alam
