Oleh. Kholda Najiyah
Muslimahtimes.com–In this economy adalah istilah yang menggambarkan tekanan keuangan dalam struktur masyarakat modern hari ini. Upah minim, pekerjaan sulit, perdagangan lesu, dan harga kebutuhan pokok kian tak terjangkau. Pihak yang paling tertekan dalam rumah tangga adalah ibu. Peran mereka dalam menjaga stabilitas dan daya tahan finansial rumah tangga, menjadi sangat krusial. Lalu apa yang harus dilakukan?
- Audit Anggaran
Lakukan pencatatan pengeluaran harian secara rinci. Bisa menggunakan buku kas sederhana atau aplikasi keuangan digital. Setelah sebulan, akan terlihat nyata, berapa kebutuhan real keluarga. Lalu cermati dan evaluasi, apakah terdeteksi kebocoran anggaran. Mungkin ada pembelian karena belanja impulsif dan jajan yang tidak dibutuhkan. - Belanja di Pasar Tradisional
Jika punya kulkas dan lokasi pasar tradisional tidak jauh, belanja di sana bisa menjadi solusi. Harga jauh lebih murah. Bisa dilakukan seminggu sekali, dan beli sesuai yang dibutuhkan. Sesuaikan dengan anggarannya. - Meal Plan dan Food Preparation
Ini jarang sekali disadari. Banyak ibu rumah tangga tidak menyusun rencana dapur. Cobalah susun daftar menu makan selama satu minggu. Niscaya tercegah beli bahan makanan berlebihan. Pelajari teknik penyimpanan bahan pangan agar awet. Jangan sampai ada bahan pangan yang terbuang sia-sia. - Tidak Jajan
Hentikan segala jenis jajan, baik cemilan, minuman berwarna, kopi mahal di kafe, dan kulineran di luar. Ini khusus yang kondisi keuangannya benar-benar pas-pasan, hanya cukup untuk kebutuhan pangan pokok. Jika kondisi keuangan agak longgar, silakan belanja kebutuhan sekunder kembali. Ini juga untuk membantu masyarakat UMKM dan memutar roda perekonomian. - Menabung di Awal
Sisihkan sebagian pendapatan rumah tangga untuk ditabung. Baik untuk kebutuhan tertentu, atau dana darurat. Jangan menunggu kelebihan uang di akhir bulan, justru sisihkan di awal. Perkara nanti akhir bulan ternyata dibutuhkan dan diambil lagi, tidak masalah. Justru itulah gunanya dana darurat. - Memiliki Penghasilan Sampingan
Baik suami maupun istri, bisa memanfaatkan teknologi digital untuk menambah pendapatan keluarga. Menjadi reseller atau jasa freelancer yang bisa dikerjakan dari rumah. Khusus istri, harus izin suami dan tanpa mengganggu fokus pengasuhan anak. - Pilih Harga Hemat
Penghematan itu bisa dilakukan antara lain dengan memprioritaskan harga murah, tanpa memperhatikan merek. Beli barang bukan demi gengsi, tapi yang penting fungsi. Terutama untuk produk yang tidak terlalu berpengaruh untuk kesehatan tubuh dan tetap menjaga kenyamanan hidup. Misal, beli sabun, tisu, atau minyak goreng, tidak perlu terpaku pada merek tertentu. - Hindari Rayuan Diskon
Hati-hati dengan godaan diskon yang membuat impulsif belanja barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan. Tidak perlu menyetok barang yang belum dibutuhkan, hanya karena mumpung saat ini ada potongan atau bonus dan sejenisnya. Prinsip saat ekonomi sulit, tunggu barang habis, baru beli, jika benar-benar butuh lagi. Kecuali punya anggaran banyak, silakan kalau beli untuk stok. - Tetap Tawakal dan Optimis
Kunci menghadapi tekanan ekonomi adalah tetap tenang, baik suami maupun istri. Keduanya harus tetap akur dan kompak menghadapi masalah bersama. Tingkatkan keyakinan akan rezeki dari Allah Swt. Tidak perlu saling menyalahkan satu sama lain. Optimis, Allah pasti tidak akan meninggalkan hamba-Nya yang iman dan Takwa. - Doa dan Sedekah
Semua rumah tangga diuji dengan tekanan berbeda-beda. Dalam dimensi spiritual, berdoa meminta kekuatan kepada Allah, serasa memohon ditunjuki solusi adalah karakter muslim sejati. Jangan lupa untuk tetap berbagi rutin, meski ekonomi sendiri sedang sulit. Sedekah dengan niat membantu sesama umat yang juga sedang susah, insyaallah menjadi tabungan kekayaan untuk akhirat nanti. Bahkan, terkadang di dunia pun akan dikembalikan oleh Allah Swt dalam bentuk yang tidak terduga. - Hindari Utang, Jual Aset
Jika kesulitan ekonomi benar-benar mendesak, jangan jadikan utang sebagai solusi. Hindari. Lebih baik menjual benda berharga di rumah. Perabotan rumah tangga, baju dan buku, bisa menjadi aset yang dijual bekas. Sekalian menyortir dan membereskan rumah yang sudah penuh dengan barang.
Menyelamatkan ekonomi keluarga, tidak instan. Butuh kesabaran. Kuncinya terletak pada kecerdasan mengelola sumber daya, komunikasi yang transparan dengan pasangan. Miliki keberanian untuk beradaptasi dengan situasi ekonomi yang dinamis, sehingga rumah tangga tidak ikut karam, hanya karena gondangan ekonomi. Percayalah, badai itu tidak abadi, pasti berlalu seiring waktu.(*)
