Oleh. Kholda Najiyah
Muslimahtimes.com–Empati dimaknai sebagai kemampuan seseorang untuk meletakkan diri di posisi orang lain atau merasakan apa yang orang lain rasakan, meskipun kita belum pernah mengalami apa yang orang itu alami. Misal ketika ada orang sakit, kita ikut membayangkan betapa menderitanya dia menahan nyeri. Ketika ada orang miskin yang kelaparan, kita ikut merasakan betapa sakit perut ini, karena kosong tidak mendapat asupan.
Perasaan empati seperti itu, tidak muncul begitu saja. Ia bukan sekadar insting emosional yang pasif. Ia tidak datang tiba-tiba, dimiliki dan hadir pada diri setiap manusia. Buktinya, ada orang-orang yang ternyata tidak memiliki empati sama sekali. Ada orang sakit, malah menyudutkannya. Ada orang miskin, tidak ada belas kasihan.
Lantas dari mana datangnya empati? Dalam sudut pandang Islam, empati adalah buah dari keimanan yang aktif. Ia merupakan cerminan dari syakhsiyah Islamiyah atau kepribadian Islam, yang terintegrasi utuh antara pola pikir (aqliyah) dan pola sikap (nafsiyah). Artinya, empati itu harus dilatih melalui serangkaian pendidikan yang membentuk kepribadian Islam.
Bagaimana cara menumbuhkan dan merawat empati agar bernilai ibadah serta membentuk kepribadian Islam yang tangguh? Berikut adalah panduannya:
- Membangun Pola Pikir bahwa Umat adalah Satu Tubuh
Fondasi utama empati dalam Islam adalah ikatan akidah Islamiyah. Sungguh tidak ada yang menyaingi kehebatan Islam dalam menggambarkan apa itu empati, yakni sabda Rasulullah Saw yang mengibaratkan kaum mukminin bagaikan satu tubuh: “Perumpamaan kaum mukminin dalam hal kasih sayang, belas kasih, dan cinta kasih mereka bagaikan satu tubuh. Jika satu anggota tubuh merasa sakit, maka seluruh tubuh akan turut merasakan demam dan tidak bisa tidur.” (HR. Muslim).
Dari konsep ini, mari kita praktik rutin, dengan mencermati penderitaan saudara seiman bukan sebagai urusan orang lain, tetapi bagian dari masalah kita juga. Setiap kali melihat kesulitan di tengah masyarakat, pandanglah melalui kacamata ukhuwah.
- Menghidupkan Konsep Atsar atau Mendahulukan Orang Lain
Fondasi kedua dari empati adalah jiwa yang tidak egois. Seorang muslim, tidak hanya memikirkan diri sendiri tapi juga orang lain. Alquran memuji orang-orang Anshar yang memiliki sifat ith’ar, yaitu mendahulukan kepentingan saudaranya meskipun mereka sendiri dalam kesusahan (QS. Al-Hasyr: 9).
Cara memiliki sikap astar adalah mulai dari hal kecil di rumah atau lingkungan sekitar. Saat memiliki kelebihan rezeki, waktu, atau tenaga, latih diri untuk bertanya: “Adakah orang lain di sekitar saya yang hari ini sedang sangat membutuhkan apa yang saya miliki?”
- Pembersihan Nafsiyah dengan Mengendalikan Lisan dan Prasangka
Empati muncul dari sikap berbaik sangka atau husnuzan. Sebaliknya, orang yang nirempati selalu berprasangka buruk atau suudzon, sehingga tumbuh sikap menghakimi (judgmental) terhadap kesulitan orang lain. Komentar penuh kebencian, julid dan menyudutkan seperti: “Sudah miskin, banyak ngeluh!” pertanda telah matinya empati.
Oleh karena itu, sebelum menilai kesusahan seseorang, posisikan diri di titik terlemah mereka. Alih-alih melontarkan kritik yang menyakitkan, dorong lisan untuk mendoakan atau menawarkan solusi nyata.
- Mengubah Empati Menjadi Solusi dalam Amal Nyata
Empati dalam Islam tidak berhenti pada rasa iba di dalam hati atau air mata yang jatuh. Empati yang lahir dari syakhsiyah Islamiyah bersifat proaktif dan solutif. Rasulullah Saw adalah teladan utama yang empati sosialnya selalu berwujud pembelaan terhadap kaum lemah, fakir miskin, dan anak yatim.
Ini praktik yang bisa kita tiru, jika melihat tetangga kelaparan, wujudkan empati dengan mengantarkan makanan. Jika melihat sesama Muslim dizalimi atau kesulitan secara sistemik, wujudkan empati dengan ikut berkontribusi dalam dakwah dan amar makruf nahi mungkar untuk memperbaiki akar masalahnya.
Demikianlah, menumbuhkan empati dalam kerangka syakhsiyah Islamiyah berarti mentransformasikan rasa kemanusiaan menjadi ketaatan mutlak kepada Allah Swt.
Dengan landasan kasih sayang Islam, empati kita tidak akan pernah luntur oleh kelelahan duniawi. Niscaya, setiap senyum dan uluran tangan yang kita berikan, bernilai pahala abadi di sisi Allah Swt.(*)
